Financial Market Update

POI - Point of Interest:

Harga obligasi di pasar surat utang domestik meningkat hari ini seiring meningkatnya minat investor masuk ke pasar SBN. Hal ini juga dipicu oleh hasil RDG Bank Indonesia pada hari ini yg mempertahankan ekspektasi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2022 di kisaran 4,5% - 5,3% meskipun terdapat risiko resesi global, selain itu tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,50%, suku bunga deposit facility di level 2,75% dan lending facility 4,25%.

Volatilitas pada pasar global masih berlanjut seiring kekhawatiran investor terhadap potensi resesi AS yang dipicu oleh pernyataan Gubernur the Fed, Jerome Powell bahwa Bank Sentral berkomitmen kuat untuk meredakan inflasi yang berada pada level tertingginya dalam 40 tahun. Sinyal the Fed untuk tetap menaikkan suku bunga acuannya hingga inflasi mereda mendorong kekhwatiran pelaku pasar global semakin meningkat. Pengetatan kebijakan moneter yang agresif dinilai dapat mendorong AS menuju resesi. Selain itu, tekanan eksternal yang meningkat, mendorong investor beralih pada kelas aset yang lebih aman/risiko rendah.

Gubernur the Fed, Jerome Powell, mengakui bahwa kenaikan suku bunga yang signifikan dapat menyebabkan resesi di AS, dimana pencegahannnya sebagian besar tergantung dari variabel di luar kendali Fed. Selain itu, risiko yang terjadi adalah kegagalan Fed memulihkan stabilitas harga dengan mengadopsi kebijakan suku bunga yang lebih tinggi.

Rilis data inflasi Kanada bulan Mei 2022 yang meningkat 7,7%yoy, tertinggi sejak Januari 1983 dan di atas ekspektasi pasar sebesar 7,4%yoy. Tekanan tsb berasal dari harga transportasi dan makanan karena sanksi Barat ke Rusia yang menyebabkan kenaikan harga komoditas.

Harga minyak mentah jenis WTI dan Brent hari ini anjlok. Minyak WTI anjlok 2,3% ke US$ 103,55/barel dan berada di level terendah sejak pertengahan Mei lalu, merosot nyaris 15% dlm 2 pekan terakhir. Minyak Brent turun 2,1% ke US$ 109,28/barel dan dalam 2 pekan anjlok lebih dari 11%. Penurunan harga minyak ini mendorong penurunan beban impor Indonesia, sehingga tekanan bagi Pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak akan semakin berkurang dan inflasi lebih terjaga.

Dalam Konferensi Pers APBN Kita, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa stabilitas nilai tukar dalam beberapa waktu terakhir adalah karena semakin rendahnya kepemilikan asing dalam SBN Pemerintah yang kini hanya tersisa 16,3%. Nilai tukar Rupiah sampai dengan 22 Juni 2022 terdepresiasi sekitar 4,14%ytd dibandingkan dengan level akhir 2021, relatif lebih baik jika dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India 5,17%, Malaysia 5,44%, dan Thailand 5,84%.

Pada perdagangan hari ini, Rupiah ditutup menguat sebesar Rp 14.840/USD, jika dibandingkan penutupan kemarin di level Rp14.862/USD.

IHSG ditutup menguat 0,2% atau 13,96poin di level 6.998,27 mendekati level psikologis 7.000. Net sell investor asing di seluruh pasar sebesar Rp1,70 triliun.

Demikian disampaikan, terima kasih.




Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP