Financial Market Update

POI - Point of Interest:

*      Menurut JP Morgan Chase, harga minyak global bisa semakin tinggi jika sanksi AS dan Eropa mendorong Rusia untuk melakukan pembalasan untuk memangkas produksi minyak mentahnya. Harga minyak global diperkirakan dapat mencapai USD380/barel (vs. harga Brent saat ini sekitar USD111/barel). Pemangkasan 3 juta barel untuk pasokan minyak per hari akan mendorong harga Brent ke USD190/barel, sedangkan skenario terburuk pemangkasan 5 juta per hari bisa mendorong harga minyak ke USD380/barel.

*      Indeks Manufaktur AS turun menjadi 53,0 pada Juni 2022, sebelumnya 56,1 pada Mei 2022. Hal ini menunjukkan pertumbuhan paling lambat pada aktivitas pabrik sejak Juni 2020 dan di bawah perkiraan pasar sebesar 54,9. Permasalahan rantai pasokan dan harga masih menjadi kekhawatiran terbesar para pelaku bisnis.

*      Volatilitas pasar dan ketidakpastian global yang masih tinggi mendorong permintaan investor menjadi relatif terbatas, sehingga diperkirakan bahwa Pemerintah tidak akan terlalu agresif dalam melakukan penerbitan SBN melalui lelang SUN maupin Sukuk Negara dalam waktu dekat. Hal tersebut dimungkinkan mengingat Pemerintah masih memiliki peluang untuk menerbitkan SBN melalui cara lain seperti private placement maupun penerbitan SBN ritel. Pekan lalu, Pemerintah menerbitkan FR0094 senilai IDR659,9 miliar dan USDFR003 senilai USD5,86 juta melalui skema private placement dalam rangka Program Pengungkapan Sukarela (PPS), senilai IDR21,87 triliun melalui private placement dengan Bank Indonesia berdasarkan skema burden sharing Surat Keputusan Bersama (SKB) III. Dengan penerbitan SBN pekan lalu, year-to-date, Pemerintah telah menerbitkan SBN senilai IDR513,4 triliun.

*      Harga emas kembali melemah, pada pasar spot harga emas dunia sebesar USD1.807,76/troy ons atau melemah 0,13%. Dalam sepekan, harga emas melemah 0,8% point to point, sedangkan dalam sebulan harga emas juga menyusut 2,3% dan dalam setahun masih menguat 0,9%. Harga emas masih akan sangat ditentukan oleh ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed yang akan menarik investor untuk membeli dolar AS sehingga greenback makin menjulang.

*      IHSG ditutup melemah 2,28% atau 155,15bp ke level 6.639,17. Menurut Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Roger MM, Pelemahan IHSG hari ini disebabkan oleh situasi pasar yang merespon data ekonomi terkait inflasi domestik yang melebihi 4% dari target Bank Indonesia serta data ekonomi AS yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi -1,6% menandakan peluang menuju resesi.

*      Rupiah ditutup melemah 29bp atau 0,19% ke level Rp14.971/USD, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp14.943/USD. Pelemahan rupiah diperkirakan karena adanya sentimen risk-off di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi namun tetap terbatas di tengah hari libur AS.



Demikian disampaikan, terima kasih.


Divisi Pengelolaan Investasi

DAPENBI IP