Financial Market Update

Point of Interest:

 

- Harga minyak mentah turun lebih dari 1% pada Rabu, minyak Brent turun US$1,01 atau 1,2% pada US$83,02/ barel, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 98 sen atau 1,2% pada US$78,66. Penurunan harga minyak terjadi seiring data manufaktur global yang buruk menarik perhatian menjelang pertemuan tahunan Jackson Hole. Selain itu, harga minyak memburuk juga akibat kelesuan ekonomi China yang membuat permintaan turun dari importir minyak mentah utama dunia. Aktivitas ekonomi yang lesu telah membuat pasar frustasi karena stimulus yang dijanjikan China tidak memenuhi ekspektasi pasar, termasuk penurunan suku bunga pinjaman utama yang lebih kecil dari perkiraan.

 

- Harga batu bara terus menguat, bahkan mencatatkan rekor kenaikan harga 12 hari beruntun dan menjadi yang terpanjang sejak Desember 2009 atau 13 tahun terakhir. Harga batu bara kembali naik dari fase paling pesimis telah kembali rebound 24,1% menjadi US$ 164,75 sampai hari ini. Posisi saat ini merupakan yang tertinggi sejak 5 Mei 2023 atau 3 bulan terakhir. Terdapat beberapa faktor signifikan harga batu bara ICE Newcastle kontrak September ini dapat kembali pulih. Penyebab utamanya berasal dari China sebagai konsumen 56% dari pasar global telah mengalami perbaikan permintaan.

 

- Dalam RAPBN TA 2024, pembiayaan utang yang bersumber dari Surat Berharga Negara (SBN) neto direncanakan sebesar Rp666,4 triliun. Pembiayaan utang melalui penerbitan SBN tersebut meningkat 83,6% jika dibandingkan dengan outlook APBN tahun 2023 sebesar Rp 362,9 triliun. Secara umum, penerbitan SBN di pasar domestik tahun 2024 akan dilakukan melalui instrumen SUN dan SBSN dengan tenor 2 tahun sampai 50 tahun dan SPN/S. Penerbitan SBN dapat dilakukan dalam bentuk Obligasi Negara Ritel, Sukuk Ritel, Saving Bonds Ritel, dan Sukuk Tabungan dengan target ke investor institusi dan investor ritel. Selain penerbitan SBN domestik melalui lelang dan SBN ritel, pemerintah juga melanjutkan inovasi penerbitan Cash Waqf Linked Sukuk sebagai salah satu upaya untuk mendukung Gerakan Wakaf Nasional.

 

- BI merilis data transaksi berjalan yang mengalami defisit sebesar US$1,9 miliar atau 0,5% dari PDB pada Q2-2023, merupakan defisit pertama sejak Q2-2021, selain itu Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat defisit sebesar US$ 7,37 miliar pada Q2-2023, merupakan yang pertama sejak Q3-2022. Defisit pada April-Juni 2023 juga berbanding terbalik dengan surplus sebesar US$ 6,52 miliar pada Januari-Maret 2023.

 

- IHSG hari ini ditutup menguat tipis 0,07% ke level 6.921,41, dibandingkan penutupan sebelumnya pada level 6.916,45. Penguatan IHSG ditopang oleh kenaikan delapan indeks sektoral diantaranya sektor barang baku naik 1,63%, sektor transportasi dan logistik naik 0,95%, sektor energi naik 0,51%, sektor barang konsumsi nonprimer menguat 0,44%, sektor properti dan real esatat naik 0,33%, sektor perindustrian menguat 0,31%, sektor barang konsumsi primer naik 0,16%, dan sektor kesehatan naik 0,04%.

 

- Rupiah hari ini ditutup menguat 0,14% ke level Rp15.295/USD, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp15.317/USD.

 




Demikian disampaikan, terima kasih.

 

Divisi Pengelolaan Investasi

DAPENBI IP