Financial Market Update - Rabu 15 Juni 2022
POI - Point of Interest:
Rilis data Producer Price Index (PPI) AS, tercatat meningkat 0,8% MoM di Mei 2022, menyusul kenaikan 0,4% MoM di April 2022, dan meningkat 10,8%YoY jika dibandingkan tahun sebelumnya dimana melambat dari level tertingginya selama 21 tahun terakhir sebesar 11,2% YoY yang dicapai pada Maret 2022.
Rilis data penjualan Ritel AS untuk Mei 2022 malam ini yang diproyeksikan akan melambat sekitar 0,2% MoM vs. 0,9% MoM pada April 2022 karena penjualan mobil yang lebih lemah. Sementara itu, department store mengalami pertumbuhan penjualan berkelanjutan didukung oleh belanja konsumen untuk kebutuhan sehari-hari yang telah pulih.
Bank Sentral Eropa (ECB) kembali mengadakan rapat kebijakan moneter darurat karena saat ini yield obligasi Italia tenor 10 tahun meroket menembus 4%, dimana pada Selasa kemarin yield tersebut mencapai 4,279%, tertinggi sejak Oktober 2013. Yield obligasi pemerintah yang semakin tinggi, memicu kekhawatiran akan gagal bayar yang dialami Italia. Rasio utang terhadap PDB Italia saat ini mencapai 150%. Ketika yield tersebut naik, maka untuk menerbitkan obligasi yang baru kupon yang diberikan akan semakin tinggi, sehingga beban utang Italia akan semakin membengkak. Semakin menanjaknya yield obligasi Italia memicu kekhawatiran akan kembali terjadinya krisis utang di Eropa seperti satu dekade yang lalu. Selain itu, rilis Pada bulan Mei lalu, inflasi Uni Eropa melesat 8,1% yoy yang menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah sehingga membuat ECB akan agresif menaikkan suku bunga sebesar 25bp.
Tekanan eksternal masih berlanjut dan tren kenaikan yield secara global diperkirakan juga masih akan membuka peluang kenaikan yield lanjutan di pasar surat utang Indonesia dalam waktu dekat. Harga obligasi di pasar surat utang domestik menguat terbatas pada hari ini ditengah volume transaksi yang tipis seiring investor yang masih cenderung wait and see terhadap hasil FOMC meeting malam ini dimana The Fed akan memberikan pandangannya terkait prospek ekonomi dan dot plot proyeksi suku bunga sbg sinyal the Fed menaikkan suku bunga yang lebih agresif. Volume transaksi SBN secara outright tercatat sebesar IDR11,1 triliun hari ini, lebih rendah dari volume transaksi kemarin sebesar IDR18,0 triliun.
Nilai tukar Rupiah pada hari ini melemah ke level IDR14.740/USD, dari posisi penutupan kemarin di level IDR14.695/USD, melemah 0,31% di pasar spot. Dalam 3 hari, rupiah tercatat melemah 1,3%.
Rilis data BPS yang mencatatkan surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar USD2,90 miliar di bulan Mei 2022, melanjutkan surplus bulan sebelumnya yang sebesar USD7,57 miliar. Hasil tsb dibawah ekspektasi konsensus Bloomberg yang memperkirakan surplus sebesar USD3,46 miliar. Ekspor Indonesia mencapai USD21,51 miliar (-21,29% MoM dan +27,00% YoY), sedangkan impor tercatat sebesar USD18,61 miliar (-5,81% MoM dan +30,74% YoY) di bulan Mei 2022.
Menurut laporan BPS, inflasi Indonesia berada di level 3,55%yoy, sedangkan Bank Indonesia memperkirakan inflasi hingga akhir tahun mencapai 4,2%. Pernyataan Gubernur Bank Indonesia, bahwa BI tidak perlu menaikkan suku bunga acuan dalam kondisi sekarang karena inflasi yang masih terkendali. Langkah normalisasi yang dijalankan BI adalah menaikkan giro wajib minimum (GWM) perbankan yang dipercepat normalisasi likuiditas tersebut tanpa mengganggu perbankan menyalurkan kredit.
Rilis data RTI, IHSG ditutup melemah 42,8 poin atau 0,61% ke level 7.007. Tercatat, 153 saham menguat, 391 saham melemah dan 136 saham bergerak ditempat. Investor asing tercatat membukukan aksi net foreign sell Rp702,01 miliar. Sedangkan, Indeks LQ45 ditutup turun 5,4 poin (0,53 persen) ke 1.014.
Demikian disampaikan, terima kasih.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP