Financial Market Update
Point of Interest:
• Indeks USD naik ke level 105,6, merupakan level tertinggi sejak Juli
2024, seiring
investor yang mengantisipasi bahwa kebijakan perpajakan Donald Trump
kemungkinan akan mendorong inflasi AS lebih tinggi, sehingga membatasi ruang
Fed untuk memangkas suku bunganya.
•
Ketidakpastian politik di Jerman meningkat setelah koalisi Kanselir Olaf
Scholz kehilangan dukungan mayoritas sehingga mendorong seruan untuk mengadakan
snap election. Runtuhnya koalisi Scholz, yang didorong oleh ketidaksepakatan
mengenai kebijakan anggaran, telah menyebabkan _legislative gridlock, sehingga
mengancam stabilitas ekonomi Jerman.
•
Harga minyak Brent turun sebesar 3% menjadi $71/barel menyusul sentimen pasar yang semakin
tertekan oleh kemenangan Donald Trump dalam pemilu AS dan sikapnya yang
pro-pengeboran minyak serta prospek yang lebih damai di Timur Tengah.
• Perbankan China mencatatkan pertumbuhan pinjaman sebesar CNY500 miliar
(Okt 2024), turun
dari CNY738 miliar (Okt 2023) dan lebih rendah dari ekspektasi konsensus
sebesar CNY700 miliar. Angka tersebut mencerminkan rendahnya permintaan akan
investasi baru dalam proyek-proyek perekonomian China.
• Defisit fiskal Indonesia YtD (Okt 2024) melebar ke Rp309 triliun (1,4%
dari PDB) dari Rp243 triliun (1,1% dari PDB) pada Okt 2023. Namun demikian, secara MoM, defisit fiskal
menyempit ke Rp65,8 triliun (Okt) dari Rp89,7 triliun (Sep) didorong oleh
pendapatan pajak yang lebih tinggi dan belanja negara yang lebih rendah.
• Berdasarkan survey BI, penjualan ritel (Sep) tumbuh sebesar 4,8% YoY,
turun dari 5,8% YoY (Agst). Secara MoM, penjualan ritel terkontraksi sebesar 2,5% (Okt) dan
merupakan kontraksi pertama dalam 3 bulan terakhir. Perlambatan pertumbuhan
ritel diperkirakan masih akan berlanjut hingga Oktober.
•
IHSG ditutup menguat 0,76% ke level 7.321,98.
•
Rupiah ditutup melemah 0,64% ke level Rp15.780/USD, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya
pada level Rp15.680/USD.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP