Financial Market Update
IDR10 : 7,10% - 7,14% (cl: 7,10%)
IDR5 : 7,05% - 7,10% (cl: 7,06%)
UST10 : 4,48% - 4,48% (last: 4,48%)
IDR : 17.945 - 17.961 (cl: 17.954)
DXY : 100,60 - 100,99 (last: 100,73)
JCI : 5.805,92 - 5.899,30 (cl: 5.875,78)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : -4bps to 7,06%
FR0108 (10yr) : -3bps to 7,10%
FR0106 (15yr) : -3bps to 7,17%
FR0107 (20yr) : -1bps to 7,17%
Point of Interest:
• Rilis data NFP AS bulan Juni menunjukkan perlambatan pasar tenaga kerja yang lebih besar dari ekspektasi. NFP Juni hanya naik 57K vs konsensus 110K (prev. 129K), sama halnya dengan private payrolls yang hanya naik 49K vs konsensus 88K. Di sisi lain, tingkat pengangguran menurun ke 4,2% (prev. 4,3%), meskipun sebagian dipengaruhi oleh turunnya tingkat partisipasi angkatan kerja menjadi 61,5% dari 61,8%. Adapun pertumbuhan upah relatif sesuai ekspektasi dengan kenaikan 0,3% MoM dan 3,50% YoY (prev. 3,40%), disertai klaim pengangguran awal turun menjadi 215K vs konsensus 220K.
• Pergeseran peluang kenaikan suku bunga The Fed. Sebelum rilis data ketenagakerjaan, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 67% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Namun pasca rilis data NFP Juni yang meleset ekstrem, probabilitas kenaikan suku bunga tsb turun drastis ke kisaran 45,6% – 50%.
• Sejumlah institusi keuangan global menilai data ketenagakerjaan AS terbaru mendukung prospek suku bunga The Fed yang tetap stabil. Ekonom Jefferies menyatakan bahwa meskipun ekonomi AS masih relatif resilien, data ketenagakerjaan belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan suku bunga, sehingga perhatian pasar ke depan akan lebih tertuju pada perkembangan inflasi. Sejalan dengan itu, Morgan Stanley memperkirakan yield curve UST akan kembali steepen dan The Fed akan mempertahankan suku bunga hingga Maret 2027, sementara Nomura juga memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga hingga akhir tahun.
• HSBC menilai SBN menawarkan kombinasi menarik antara carry yang tinggi dan dukungan kebijakan BI yang kuat, seiring mulai kembalinya arus modal asing ke pasar domestik. Di tengah volatilitas global akibat tingginya yield AS dan potensi pengetatan The Fed, SBN semakin menarik secara risk-adjusted return dibandingkan negara berkembang dengan imbal hasil serupa lainnya.
• Isu tata kelola pemerintahan kembali menjadi perhatian investor asing menyusul perkembangan kasus dugaan korupsi program makan gratis dan meningkatnya sorotan terhadap kualitas kebijakan publik. Kejaksaan Agung menetapkan satu brigjen polisi aktif sbg tersangka, sementara perkara yg melibatkan seorang perwira militer dilimpahkan ke unit tindak pidana militer. Selain itu, The Diplomat menerbitkan artikel yang menyoroti penurunan kualitas tata kelola pemerintahan di bawah administrasi Prabowo.
• Reuters menyoroti bahwa Danantara belum merilis laporan keuangan konsolidasi pertamanya, yang semakin meningkatkan kekhawatiran terkait aspek transparansi dan tata kelola di lembaga tersebut. Reuters juga melaporkan adanya desakan sejumlah kelompok masyarakat sipil agar perlindungan hukum bagi investor obligasi Danantara ditinjau ulang oleh FATF (Financial Action Task Force) sbg organisasi internasional yang menetapkan standar global untuk pencegahan pencucian uang, pendanaan terorisme, dan pendanaan proliferasi senjata pemusnah massal.
• Bloomberg melaporkan bahwa Danantara tengah melakukan penguatan jajaran manajemen senior, termasuk penunjukan posisi baru di bidang legal dan kepatuhan, seiring perluasan mandat lembaga tersebut di bawah pemerintahan Presiden Prabowo. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap aspek tata kelola Danantara.
• Harga SBN seri benchmark bergerak menguat dengan kisaran penurunan yield sebesar 1-4 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 3 bps ke level 7,10% (ytd: +105bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp19,1 triliun, naik dibandingkan Rp16,3 triliun pada hari sebelumnya.
• IHSG menguat 2,28% ke level 5.875,78, seiring kembalinya net beli investor asing sebesar Rp6,04 miliar setelah membukukan net jual selama sebelas hari berturut-turut. Seluruh sektor bergerak menguat dengan penguatan terbesar pada sektor perindustrian (+3,61%), barang baku (+3,24%), dan infrastruktur (+2,24%). Sentimen pelemahan USD secara meluas juga mendukung penguatan harga aset berisiko di pasar keuangan global.
• Rupiah menguat 0,22% ke level 17.954 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.994, seiring pelemahan USD secara global yang disebabkan oleh berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah rilis data sektor tenaga kerja AS yang lebih rendah dari ekspektasi. Namun, penguatan Rupiah masih tertinggal dibandingkan mata uang regional, termasuk MYR, seiring berlanjutnya sentimen negatif pasca rilis defisit neraca perdagangan Indonesia.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP