Financial Market Update

IDR10 : 7,25% - 7,28% (cl: 7,26%)
IDR5 : 7,20% - 7,24% (cl: 7,20%)
UST10 : 4,58% - 4,61% (last: 4,60%)

IDR : 17.875 - 17.972 (cl: 17.883)
DXY : 100,86 - 101,01 (last: 100,97)
JCI : 6.247,35 - 6.340,02 (cl: 6.340,02)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : 0bps to 7,20%
FR0108 (10yr) : 0bps to 7,26%
FR0106 (15yr) : +2bps to 7,28%
FR0107 (20yr) : +1bps to 7,27%

Point of Interest:

Kemenkeu melaporkan realisasi defisit APBN hingga per Juni 2026 mencapai 0,76% dari PDB, atau hanya sebesar Rp196,5 triliun. Data tsb membantu meredam kekhawatiran bahwa defisit fiskal pemerintah akan mencapai 3%-4% dari PDB. Posisi keseimbangan primer juga mencatatkan surplus sebesar Rp85,1 triliun. Pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun (+21,4% YoY; 46,3% dari target APBN 2026 Rp3.153,6 triliun), ditopang oleh penerimaan pajak dan bea cukai yang mencapai Rp1.187,8 triliun (44,1% dari target). Di sisi lain, belanja negara terealisasi sebesar Rp1.656 triliun (+17,8% YoY; 43,1% dari target Rp3.842,7 triliun). Belanja pemerintah pusat telah tersalurkan sebanyak Rp1.298,6 triliun (41,2% dari target Rp3.149,7 triliun).

Menkeu Purbaya menyatakan bahwa realisasi APBN Juni 2026 menunjukkan kondisi fiskal Indonesia masih tetap solid dan kuat, serta mampu menjalankan fungsi sebagai instrumen utama dalam menjaga stabilitas ekonomi, mendorong pertumbuhan, dan mendukung pembangunan nasional. Purbaya juga menegaskan bahwa kinerja APBN yg kuat tsb turut menjadi salah satu faktor yang mendasari keputusan S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil.

DPR RI resmi mengesahkan Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (UU PFII) dalam Sidang Paripurna. UU tsb dirancang strategis untuk menarik bank investasi global, wealth management, dan family office ternama dengan menyediakan paket insentif, seperti tax holiday korporasi hingga 50 tahun. Pelaku pasar merespons positif kepastian payung hukum ini dan mendorong aksi beli masif pada saham sektor properti dan perbankan domestik.

Moody's menerbitkan ulasan yang memperingatkan adanya peningkatan risiko keberlanjutan fiskal di Indonesia. Berbeda dengan S&P yang mempertahankan peringkat BBB dengan outlook stabil minggu lalu, Moody's menyoroti pembengkakan beban subsidi energi pasca-konflik Timur Tengah dan meminta pasar mewaspadai disiplin anggaran jangka panjang. Martin Petch, Vice President Sovereign Risk Division Moody’s Ratings, menilai keseimbangan risiko sejak prospek peringkat Indonesia direvisi menjadi negatif pada Februari semakin memburuk, terutama akibat konflik Iran yang mendorong kenaikan belanja subsidi secara signifikan.

Fokus pelaku pasar tertuju pada RDG Bank Indonesia periode Juli 2026 yang akan mengumumkan keputusan suku bunga pada esok hari (22 Juli). Konsensus pasar secara umum terbelah, dengan lembaga internasional memproyeksikan BI akan menaikkan suku bunga acuan ke 6,00% sebagai langkah defensif terhadap Rupiah. Namun, beberapa ekonom domestik memprakirakan BI-Rate akan ditahan di level 5,75% karena inflasi dinilai masih dalam batas aman. Ekspektasi kebijakan pre-emptive ini berhasil menopang kinerja Rupiah yg ditutup menguat terhadap USD pada perdagangan hari ini.

Eskalasi perang AS-Iran memasuki hari ke-10 yang diperburuk oleh blokade maritim Houthi terhadap Arab Saudi. Militer AS melanjutkan serangan pengeboman malam ke wilayah selatan dan barat Iran, yang dibalas Teheran dengan menargetkan pangkalan AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Ketegangan semakin memuncak setelah milisi Houthi di Yaman mengumumkan blokade maritim terhadap kapal Arab Saudi, serta satu tanker minyak mentah Saudi dilaporkan diserang di Selat Hormuz. Berita ini membuat harga minyak Brent kembali melonjak ke kisaran $89-$91/barel.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengenaan tarif masuk sebesar 50% terhadap produk impor asal Kanada senilai $20 miliar yang berlaku mulai bulan depan. Tarif ini menyasar komoditas ekspor utama Kanada seperti semen, wine, dan pakaian. Perdana Menteri Kanada Mark Carney segera merespons dengan menyatakan akan mempercepat negosiasi guna menghindari dampak buruk terhadap rantai pasok industri Amerika Utara.

Pelaku pasar global cenderung bersikap hati-hati menjelang rilis laporan keuangan kuartalan dari perusahaan teknologi terbesar dunia seperti Alphabet (Google), Tesla, dan IBM yang dijadwalkan besok.

Harga SBN seri benchmark bergerak sideways cenderung melemah. Yield SUN 10 tahun ditutup stabil di level 7,26% (ytd: +121bps). Adapun SUN tenor panjang (15 dan 20 tahun) cenderung melemah pada kisaran 1-2 bps.

IHSG menguat 1,74% ke level 6.340,02, melanjutkan tren penguatan selama sembilan hari perdagangan berturut-turut dengan volume perdagangan mencapai 51,10 miliar lembar saham senilai Rp21,59 triliun. Mayoritas kinerja sektoral saham menguat, terutama didorong oleh sektor energi +3,48%, barang baku +2,76%, dan infrastruktur +2,67%. Penguatan IHSG terindikasi masih ditopang oleh berlanjutnya rotasi modal global dari saham sektor AI/semikonduktor di Asia Timur menuju pasar berkembang yang tertinggal (lagging) dan memiliki valuasi jauh lebih murah seperti Indonesia.

Rupiah menguat 0,33% ke level 17.883 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.942. Penguatan Rupiah sejalan dengan masuknya aliran modal asing dalam jumlah besar di pasar saham hari ini, yang turut ditopang oleh sentimen positif dari laporan Kemenkeu bahwa defisit APBN per Juni 2026 masih terkendali 0,76% dari PDB, serta antisipasi pelaku pasar terhadap potensi kenaikan BI-Rate pada RDG 22 Juli 2026.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP